My Life is Dream : BAB X ( Menghilang )

Posted By Dewa Wijaya on Sunday, March 3, 2013 | 9:47 AM


/Ngurah Rai International Airport/
*6.30 pm*

Matahari hendak tenggelam di ufuk selatan. Semua itu terhalang oleh dedauan mangrove yang berubah jingga terkena cahayanya. Hawa dingin mulai menyapa, mengalir lembut bersama irama senja yang perlahan lenyap.

"Apa kau yakin Riza sudah sampai?" Yuni tak dapat menahan rasa paniknya. Keringat dingin mengucur membasahi sekujur tubuhnya. Putri hanya memperhatikan arloji perak yang ia kenakan. Seakan-akan dia tak dapat mengatakan hal apapun karena tubuhnya mulai lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh.


"Eh........sepertinya itu Eka!" Yulia menunjuk salah seorang yang sedang bersandar ditembok dekat terminal.

"Eka siapa Sih......?" Tanya Putri. Matanya tak dapat melihat jelas, karena kerumunan orang sedang bersandar di tembok.

"Ekasian deh lu hahaha!" seru Yulia.

"Duh jangan bercanda ah......!" Wajah Putri terlihat kesal.

"Ya, siapa lagi kalau bukan Eka Sukma, classmate SMP kita! jawab Yulia.

"Eh.......ia, kok kurusan ya. cantik banget!" Sejenak Yuni merasa heran melihat penampilan Eka.

"Samperin aja!" seru Bisma. Perlahan, Putri CS melangkah menuju tembok. Menyusuri setiap ubin coklat berbentuk persegi lima.

"Eka............!" teriak Putri dari kejauhan. Eka memalingkan wajahnya menuju sumber suara.. Terlihat, wajahnya sedikit kaget.

"Bisma........huaaaaaaaaa!" Eka berlari menuju Bisma. Putri CS  sedikit heran, bukannya teman lama yang dipanggil melainkan orang lain yang belum ia kenal. Dia pun berlari dan spontan memeluk tubuh Bisma dengan mesra.

"Aw......peluk-peluk, apa kita tak bisa jadi orang pertama yang memelukmu? Ha....!" Yulia mulai jengkel. Sembari menunggu Eka memeluk Bisma mesra, tiba-tiba Yuni mendapatkan sms.

"Dari siapa Yun?" tanya Putri. Sepintas, Yuni sedikit panik setelah melihat sms yang diterimanya.

"Tik.........aku tak bisa membantumu sekarang!" kata Yuni.

"Maksudmu apa Yun,.....jelaskan sekarang!" seru Putri.

"Tak bisa Tik........maaf aku harus pergi sekarang!" perkataan terakhir itu, diucapkan olehnya dengan rasa sedih. Dengan langkah yang cepat, dia meninggalkan Putri CS. Tubuhnya lesu dan mukanya terlihat pucat. sejenak Yulia dan Putri mengira ada sesuatu yang tak beres dibalik semua ini.

"Eh Eka.......cukup mesra-mesranya, apa kau tak ingat kami ini siapa?! orang yang belum kamu kenali saja pakai peluk-pelukan segala" Kata Yulia dengan kesal.

"Mana mungkin aku tak ingat kalian, wajarlah aku seperti ini karena dia idolaku!" kata Eka.

"Sudah-sudah, kita harus mencari Riza secepatnya!" seru Putri.

"Riza..........?!" kata Eka heran.

"Iya, apa kau tau tentang keberadaannya?" tanya Putri.

"A......a....kurasa tidak!" wajah Eka terlihat memerah.

"Bohong ya?" tanya Yulia.

"Mana mungkin seorang Eka berbohong.....ngaca dong!" jawabnya dengan penuh percaya diri.

"Eh....kau sedang apa disini?" tanya Putri.

"Hari ini, aku akan menyaksikan pamanku atraksi pesawat bersama temanku, pamanku kan TNI AU!" kata Eka.

"Oh, ya sudah......ayo Tik, kita cepat tunggu Riza di tempat keluar!" seru Yulia.

"Memangnya Riza kenapa?" tanya Eka.

"Hmmm tak apa.....kami pergi dulu ya!" seru Putri.

"Krinnnnnnnggggggg" tiba-tiba terdengar suara Handphone yang begitu nyaring. Langkah Putri CS terhenti sejenak. Suara yang terdengar itu, adalah suara yang bersumber dari Handphone Eka. Putri dan Yulia mulai menuai kecurigaan saat Eka menutup telpon itu dan langsung pergi tanpa mengucapkan kalimat apapun.

"Sebenarnya siapa yang menelpon ya?!" tanya Yulia heran.

"Sudah-sudah, sebaiknya aku mengikutinya, kamu dan Bisma tunggu Riza di pintu belakang!" seru Putri.

Putri pun bergegas mengikutinya. Sementara itu, Bisma dan Yulia menunggu dengan tenang di pintu keluar. Setiap pasang mata mereka pandangi dengan penuh keseriusan.

"Apa kamu bawa foto Riza.......biar aku bantu mencarinya?" tanya Bisma.

"Ada........cari dengan serius ya.......kuharap wajahnya tak jauh berbeda!" kata Yulia.

Berlama-lama kemudian, Putri terlihat dari kejauhan. Dia pun bergegas menghampiri Yulia dan Bisma yang sedang serius memperhatikan orang-orang sekitar.

"Apa sudah ada tanda-tanda pesawatnya tiba?" tanya Putri dengan penasaran.

"Seharusnya Riza sudah tiba, karena pesawat yang terbang dari korea sudah tiba 15 menit yang lalu" kata Bisma.

"Bagaimana denganmu Tik..? apa Eka mencurigakan?" Tanya Yulia dengan penasaran.. Namun, Putri hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan kata apapun.

"Huh....ya sudah kita tunggu saja dulu, keberangkatan pesawat dari Korsel hanya ada sekali dihari ini, kurasa tak sulit mencarinya!" kata Bisma dengan penuh kesabaran.

“Iya, pintu keluar di bandara ini hanya ada satu!” kata Putri.

Setelah menunggu berjam-jam, tak sedikitpun tanda-tanda keberadaan Riza. Putri CS mulai putus asa dengan keadaan ini. Disela-sela kelelahan yang begitu mendalam, terdengar suara Handphone Putri.

"Halo....ada apa Chik?......!" Putri pun menjawab telponnya.

"Halo Tik......bagaimana ada kabar tentang Riza?" tanya Echik

"Nihil....hiks, kita sudah menunggu berjam-jam dibandara, dan keberangkatan dari Korea sudah tiba 3 jam yang lalu, itupun tak ada tanda-tanda dari Riza....!" keluh Putri.

"Ya sudah, teman-teman disini berpesan, sebaiknya pencarian dilakukan besok saja, kami juga akan segera take off ke Indonesia, besok pagi baru tiba!" sahut Echik.

"Baiklah, sampai jumpa besok! seru Putri.

"Ya....!" jawab Echik.

Setelah mendengar telpon dari Echik, Putri pun menyampaikan pesan yang diberikan kepadanya. Malam itu pun, Putri CS menghentikan pencarian dan bergegas menuju kerumah masing-masing. Dengan muka penuh rasa kantuk, tubuh terasa lemas, menemani langkah mereka menyusuri malam tanpa bintang.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Keesokan Harinya*

Pagi yang begitu cerah, badan sedikit lelah tertidur di kursi pesawat. Sudah hari kelima kami menjalani misi yang begitu penting ini. Namun, belum ada hasil yang berarti selama ini. Saat itu aku terdiam membisu dibawah pohon mangga milik CCP Band. Tiba-tiba Echik menghampiriku dan menemaniku menyaksikan suasana pagi bersama bunga-bunga yang bermekaran disekitar pohon.

"Apa yang sedang kau risaukan?" Echik bertanya kepadaku. Aku tak dapat menjawab dengan perkataan apapun. Yang keluar dari mulutku hanyalah senyuman dengan penuh paksaan.

"Ayolah kau cerita.....!" Echik mulai sedikit memaksa.

"Sudah lima hari, aku bertatap muka denganmu...tapi, aku masih canggung kepadamu!" Kalimat yang begitu sederhana itu, kuucapkan dengan penuh keterbukaan.

"Canggung kenapa? kau sama seperti dulu! Tak ada berubah sedikitpun, bukankah kita pernah berjanji kau akan selalu seperti ini saat kita bertemu kembali di masa depan!? Terima kasih kau telah menepatinya" Echik menepuk pundakku. Namun, semua itu tak memberanikanku untuk menceritakan kerisauanku kepadanya

"Kau tak mengerti,....aku telah mengingkari semua janjiku kepada kalian semua....!" Air mataku mulai menetes membasahi lekuk wajahku.

"Memangnya apa yang telah kau lakukan kepada kami,...?" Echik menatapku tajam.

"Tolong,.....aku tak ingin bicara lagi! Kau tak perlu khawatir, karena saat aku beranjak dari pohon ini, keadaanku akan membaik seperti biasa!"

"Tapi..........!" Echik mulai khawatir kepadaku.

"Sudahlah, sebaiknya kau masuk kedalam, udara diluar sangat dingin, aku takut tak bisa melihat kecerianmu lagi! Satu lagi,Bersikaplah seolah-olah tak terjadi apa-apa" kataku. Dengan langkah yang berat, Echik pun meninggalkanku tanpa mengucapkan kata apapun.

*Dalam Ruangan Markas CCP*

"Echik, kamu kenapa? Wajahmu terlihat pucat!" tanya Dian yang sedang duduk menunggu kedatangan Putri CS.

"Ah tak apa-apa, palingan karena lelah......!" jawabnya.

"Halo........aku datang!" seru Putri. Terlihat Yulia berada disampingnya.

"Yuni mana?" Tanya BJ yang sedang meminum kopi.

"Dia tak ada kabar, kurasa ada urusan yang tak sempat ia katakan!" sahut Putri.

"Eh.....Putri dan Yulia, kalian sehatkan?" kataku, yang sebelumnya berdiam diri di halaman belakang.

"Sehat kok!" jawab mereka.

"Darimana saja kamu Ming?" tanya Gus De.

"Menikmati suasana pagi saja......!" kataku.

"Ya sudah...silahkan duduk!" kata Dian.

"Huh....Tinggal hari ini. besok dan lusa saja nih, intinya Apa mungkin Riza ke Bali?" tanya Wahma.

"Kemungkinan itu masih ada, karena saat sebelum Riza pergi dari Korea, dia berhubungan dengan Eka" kata BJ dengan penuh kepastian.

"Apa!.......Eka.....!" Kata Yulia dengan heran.

"Kenapa......?" tanya Echik.

"Di bandara aku melihatnya.....!" seru Yulia.

"Lalu.......apa ada yang mencurigakan?" Tanya WS yang sedang sibuk merapikan patung klasik.

"Aku tak melihat kecurigaan sedikitpun!" kata Putri.

"Apa kalian tanya, apa yang sedang ia lakukan di bandara?" tanya BJ.

"Begini ceritanya, dia bilang akan menyaksikan atraksi pesawat bersama temannya  karena diundang pamannya yang bekerja sebagai TNI AU. Saat itu aku masih curiga, bahkan dia sempat menerima telpon yang mencurigakan karena setelah dia menerima telpon, dia langsung pergi tanpa mengucapkan kata apapun" jawab Putri.

"Apa kalian mengikutinya?" tanya Gus De.

"Aku mengikutinya dari belakang secara diam-diam, saat berlajan selama beberapa menit, aku melihat dia bertemu seorang dengan pakaian TNI dan seorang wanita yang menggunakan topi sombrero. Aku sih mengiranya kalau wanita itu teman yang ia ajak untuk menyaksikan atraksi pamannya. Begitu ceritanya!" sahut Putri.

"Apa kau tak melihat wajah perempuannya?" tanya Dian.

"Bagaimana bisa, wajahnya tertutup topi sombrero.

"Topi sombrero........? Apakah topi sombreronya berwarna merah tua?" tanyaku.

"Iya......benar sekali!" jawab Putri.

"Gawat nih.........!" jantungku mulai berdetak cepat.

"Apanya yang gawat.......?" tanya Wahma dengan bingungnya.

"Setahun yang lalu, aku pernah diajak saudara jauhku melihat pesawat perang di bandara. Ayahnya adalah seorang TNI. Saat itu, aku diajak masuk ke landasan khusus pesawat perang. Aku ingat, kalau di wilayah pelatihan TNI terdapat underpass dan parkir basement yang menuju pintu keluar darurat!" kataku.

"Lalu kau mengira bahwa temannya Eka itu Riza?" tanya Echik.

"Iya.........benar sekali, sebelum ke bandara Incheon, aku bertanya kepada Yena tentang pakaian terakhir yang Riza kenakan, tapi sayang aku baru bertanya setelah Putri dan kawan-kawan menghentikan pencarian!" jawabku.

"Berarti tak salah lagi,.......Riza pasti bersama Eka!" seru WS.

"Sekarang,.......apa ide kalian?" tanyaku.

"Entah........aku sangat lelah sekali, serasa semangatku menurun! sahut Dian.

"Waktunya makin sedikit Friend,...... apa kalian ingin semua ini sia-sia!" Aku mulai memaksakan keadaan.

"Hah.....aku juga tak dapat berpikir jernih sekarang! seru Echik.

"Sebaiknya seharian ini kita istirahat saja.....!" kata Dian.

"Apa boleh buat,.....baiklah kita tunda saja!" kataku.

"Ok..........aku pulang sekarang ya,...!" seru Putri. Yulia pun ikut berpamitan untuk pulang kerumahnya. Saat itu, aku tak mempunyai pilihan lain selain kembali menuju rumah.

****Putri Home 09.00 a.m.****

Ketika tiba dirumah, perasaan Putri kembali risau karena Yuni tak memberinya kabar apapun. Bahkan, telponnya tidak aktif dan sms dari Putri tak dibalas olehnya. Kata hatinya ingin mengunjungi rumahnya, namun Putri merasa tak enak meninggalkan rumahnya disaat kedatangan sepupunya dari kota Tabanan.

Dia pun memutuskan untuk meminta Yulia mendatangi kediaman Yuni.

///Yulia Home///

*Kringgggggg*

"Huaaaaaaaaa.......suara apa itu!" Yulia terkejut ketika mendengar suara berdering.

(Anda mendapatkan sms)
~~Yul, tolong cari tau keadaan Yuni sekarang~~~

Yulia berpikir, mungkin Putri tak bisa menemaninya. Dia merasa tak enak untuk menemui Yuni sendirian. Terlintas dalam benaknya untuk mengajak Echik untuk menemui Yuni.

Yulia pun menghubungi Echik dan memintanya untuk bertemu di depan rumahnya Yuni.

~~Depan Rumah Yuni~~

"Chik,....kok sepi sekali ya!" seru Yulia.

"Iya neh..seperti rumah hantu saja!" Echik menggeram ketakutan.

"Duh, pintu gerbangnya kekunci lagi! Pintu besi berwarna ungu muda terlihat terkunci rapat dalam pengeliatan Yulia.

"tak ada jalan lain selain menjat nih!" seru Echik.

“apa boleh buat...ayo kita memanjat!" ajak Yulia. Mereka berdua pun memanjat pintu gerbang Yuni. Tak diduga-duga,Saat mencapai puncak telah terjadi sesuatu yang mengejutkan.

"MALING..............! MALING...............!" Teriak kerumunan warga yang sedang berada di sekitar rumah.

"Maling........mana?" Yulia menoleh kebelakang. Tubuhnya mulai tergoyah saat melihat kerumunan warga memegang garpu rumput ditangan kiri. Celakanya lagi, ditangan kanan mereka sedang siap siaga melempar batu yang berada disekitar mereka.

"Waaaaaaaaaa.........!" Yulia berteriak ketakutan. Echik pun mengalihkan pandangannya dan membalikkan badannya.

"Ada apa ini bapak-bapak yang ganteng dan ibu-ibu yang seksi ini...........mau minta tanda tangankah?" kalimat yang terbilang sedikit lancang terucap dari mulutnya.

"Chik...mereka bukan mau minta tanda tangan, mereka akan membantai kita..........!" seru Yulia ketakutan.

"Ah...............bapak-bapak dan ibu-ibu jangan salah paham!" teriak Echik.

"Ayo......buat apa menunggu lama.......hajaaaar!" teriak salah seorang warga. Satu persatu, batu berukuran kelereng melayang di udara dan terjatuh di wajah Echik dan Yulia.

"Hua............berhenti! kami hanya ingin bertemu dengan Yuni, dia tak memberi kami kabar sejak kemarin!" teriak Echik kesakitan.

"Omong kosong...........!" teriak salah seorang warga.

"Eh...tunggu-tunggu, mereka tak salah!" kata salah seorang pemuda tampan sebaya dengan mereka. Sejenak batu-batu yang melayang terhenti.

"Mereka adalah temannya Yuni....pasti mereka tak berniat jahat.........ayo kalian cepat turun, ada yang ingin aku bicarakan!" kata pemuda itu. Para warga tampak malu mendengar perkataan pemuda itu. Mereka semua mencakupkan tangannya dan meminta maaf dengan sebesar-besarnya. Echik dan Yulia pun turun dengan sambutan meriah, karena salah seorang warga menyebarkan gosip bahwa mereka seorang artis.

"Huh......terima kasih banyak ya!" kata Yulia lembut.

"Tak masalah, aku dititipkan surat dari Yuni, aku diminta untuk memberikannya kepada kalian, nih ambil! pemuda itu menyuguhkan sebuah surat yang tertulis dalam kertas oranye.

"cepat baca Chik....! seru Yulia

^surat^
~Friend, apa kau mencariku? tolong jangan khawatirkan aku....! aku pasti baik-baik saja. Aku mohon, selesaikanlah misi ini dengan baik tanpa aku. Kalian tak perlu tau keberadaanku. Aku tak tahu kapan aku kembali. Yang jelas, aku akan selalu mengingat masa-masa indah saat kita bersama.~

"Gawat..........!" Echik berteriak dengan panik. Yulia pun meraih surat yang tergenggam dalam tangan Echik dan membacanya.

"Mungkin, memang ini jalannya, kita tak perlu tau apa yang terjadi!" kata Yulia.

"Ya sudah, cepat kau beri tau Putri dan yang lainnya! suruh Echik.

"Baiklah!" jawab Yulia. Dengan cepatnya ia mengambil telpon genggam yang berada di saku celananya.


~~~Markas CCP~~~

Siang itu, Dian tampak sedikit gelisah. Dia duduk termenung disekitar kolam bersama WS yang sedang sibuk membersihkan dedaunan yang layu.

"Duh, ada masalah apa? dari tadi murung aja!" WS menghampiri Dian dan ikut menemaninya duduk.

"Tidak, aku tak apa-apa!! Oh ya, lusa band kita berulang tahun yang ke 2!”

“Iya, aku tak mungkin lupa, tapi tak biasanya kau membicarakan hal ini, bahkan ulang tahun band kita yang pertama tak pernah kau bahas sebelumnya!”

“Sungguh?........Ah mungkin aku memang bukan entertainer sejati!”

“Kau bilang apa? Dari tadi aneh sekali!” WS Meninggalkan Dian setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

~~~Putri House~~

Echik dan Yulia tiba dirumah Putri. Aku pun ikut bersama mereka untuk mendengar secara jelas, apa yang sebenarnya terjadi pada Yuni.


"Chik, jelaskan semua kepadaku, apa Yuni hanya mengirim surat ini?" tanya Putri.

"Iya Tik, rumahnya terkunci rapat, bahkan warga sekitar tak tahu jelas penyebab kepergiannya" jawab Echik.

"Lalu apa ada perkembangannya mengenai Riza? tanya Yulia

"Aku sudah ke rumah Eka, tapi Ibunya mengatakan kalau Eka tak ada dirumah sejak seminggu yang lalu" jawab Echik.

"huh......sepertinya kita telah masuk ke jalan buntu! kataku.

"Aku benar-benar kecewa dengan Riza, apa sih sebenarnya yang ada dipikirannya" Yulia mulai mengeluarkan kekesalannya.

"Sudahlah, kita tak boleh berpikiran buruk sebelum mendapatkan bukti yang jelas" kataku.

"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" tanya Putri.

"aha....aku ada ide!" Echik mengacungkan tangannya

"apa....apa..apa...?" tanya kami penasaran.

Pikirku, mungkin Echik telah menemukan jalan keluar dari semua masalah ini. Tanpa mengatakan kata apapun kepada kami, Echik pun membawa kami ke suatu tempat.

~~~Lokasi : Dewata Vaganza~~~

"Eh, ngapain ke Dewata Vaganza Chik?" tanya Putri.

"Udah, diem aja....cepat ikut aku!" ajak Echik.

"Setauku, Dewata Vaganza tu perusahaan terbesar di Bali, bahkan para investor berasal berbagai negara maju di dunia" kata Putri.

"Yap, betul sekali......! sahut Echik dengan bersemangat.

"Oh ya, aku ingat, beberapa bulan yang lalu aku diundang untuk wawancara di gedung Dewata Food" kata Yulia.

"Hmm, berarti Dewata vaganza ini mencakup semua usaha dong? Tanyaku.

"Yap.........nah kita sudah sampai, selamat datang di Dewata Broadcasting System!" Echik menunjuk tangannya ke baliho yang berada di hadapan kami.

"Loh, ini kan stasiun televisi favoritku, tiap malam menampilkan kesenian! Seru Putri.

"Daripada banyak omong, ayo cepat masuk!" ajak Echik.

Mereka semua pun memasuki pintu masuk Dewata Broadcasting System, menyusuri lobi megah bernuansa modern. Bangunan yang berdiri di tanah seluas 4 hektar ini, berlantai 54 yang dilengkapi dengan peralatan broadcast yang canggih.

"Chik, sebenarnya kita mau ngapain disini?" Tanya Putri dengan bingungnya.

"Aduh,....jangan tanya lagi! cepat naik ke lift!" seru Echik.
Kami semua pun menaiki lift menuju lantai 39. Tak beberapa lama kemudian, dalam waktu 10 detik kami sampai di lantai tujuan. Terlihat pegawai-pegawai sedang sibuk menjalankan program acara yang ditayangkan ke seluruh penjuru dunia melalu satelit Ngurah Rai yang sudah mengudara sejak 3 tahun yang lalu. Echik masih enggan untuk memberi tau apa yang akan ia lakukan.

"Nah,...kita sudah sampai!" kata Echik.

"Tempat apaan ini? Tanya Yulia.

"Ini adalah ruang kerja pamanku. Baru terpikir ide ini, untuk mengikuti program acara disini!” kata Echik.

"Aduh,....jangan bilang kalau ini acara liburan artis!” Yulia sedikit parno.

"Ya enggak lah Yul, acara ini adalah talkshow!

"Hmm, aku mengerti sekarang, kamu berencana untuk memberikan penjelasan mengenai keadaan orang tua Riza dan menyuruh Riza kembali ke keluarganya melalui Talkshow! Bukankah bergitu?” kataku.

"Yap........! jawab Echik.

"Tapi, ini hanya berhasil kalau Riza menontonnya! Kata Putri.

"Tak ada salahnya dicoba kan, apalagi acara talkshow ini akan diterbitkan pada surat kabar, siapa tau ada orang yang melihatnya! Sahut Echik dengan penuh percaya diri.

"Iya, tapi kan harus ada imbalan! Kata Yulia.

"Tenang saja, aku yang pasang imbalannya, mengenai biaya syuting dan iklan di koran, pamanku yang atur! Jawab Echik.

"Lalu dimana pamanmu sekarang? Tanya Yulia

"Bentar lagi juga datang kok! Jawab Echik.

^^^^Beberapa menit Kemudian^^^^

"Echik, ada apa datang kesini? Terlihat, seorang pria menghampiri kami dengan pakaian jas berdasi merah.

"Ah begini,............................

Echik pun menceritakan semua keinginannya.

"Tenang saja Chik, nanti malam kita bisa langsung mulai.....datangkan saja orang yang bersangkutan secepatnya! Kata Pamannya.

"Baiklah.......kami pamit dulu ya! selamat bertugas kembali! Kata Echik.

"Yoi........!" jawab Pamannya.

"Lalu, siapa yang mengajak keluarga Riza ke tempat ini? Tanyaku yang sebelumnya pergi ke toilet.

"Tenang saja Ming! itu masalah gampang!

"Aku ikut ya Chik! Seru Putri dan Yulia.

"Ya!" jawab Echik.

~~~Malam Hari Kemudian~~~

~~Lokasi: Studio DBS ( Dewata Broadcasting System )~~~

"Chik, mana keluarganya Riza?" tanyaku.

"Bentar lagi juga sampek! Jawab Echik yang sedang sibuk mengurus administrasi.

"Tuh....mereka!” Seru Putri.

"Selamat malam, Pak, Buk!" Sambut kami dengan sopan.

"Malam juga!" Jawab mereka.

"Cepat-cepat, syuting dimulai 5 menit lagi! Teriak presenter talkshow.

Lighting glamor menghiasi setiap sudut ruangan. 3 buah kursi sofa dan sebuah meja yang berisi vas bunga mengharumkan suasana. Kru-kru DBS yang handal, membuat acara berlangsung lancar. Akhirnya, keluarga Riza pun mengungkapkan seluruh isi hatinya dalam acara talkshow itu. Air mata tak henti mengalir mengingat kerinduan terhadap anak bungsu mereka. Tak ada harapan lain yang mereka harapkan selain, hidup bahagia bersama sang buah hati. Hatiku tersentuh, melihat perjuangan hidup mereka semenjak kepergian Riza. Talkshow itu ditutup dengan sambutan hangat dari penonton di studio.

~~~Depan Gedung DBS~~~

"Terima kasih ya nak..........semoga Tuhan membalas semua kebaikan kalian!" kata Ibu Riza.

"Ini sudah kewajiban kami membantu orang yang memang seharusnya kami bantu!" sahut Echik dengan sopan.

"Baiklah, kami permisi dulu, hari sudah mulai larut!" Perkataan terakhir sang ibu, terucap lembut sebelum kembali ke rumah mereka.

"Ah iya, hati-hati dijalan!" jawab kami serempak.

"Huh..sekarang tinggal menunggu hasilnya....! Seru Putridengan semangat.

"Capek juga ya! Keluh Yulia.

"Eh Echik, apa di Dewata Vaganza ada perusahaan produk elektronik?" tanyaku

"Tentu ada, namanya adalah Dewata Elektronic!" jawab Echik.

"Kebetulan banget nih, aku lagi pingin liat barang electronic terbaru!" kataku.

"Oh, ya sudah.....kami bertiga pulang dulu ya!" sahut Echik.

"Baiklah....hati-hati dijalan!" jawabku.

Setelah Echik dan yang lainnya pulang, aku pun menyusuri kompleks Dewata Vaganza yang begitu luas ini. Tanpa disadari, aku sudah berada di depan gedung Dewata Electronic. Gedung yang sama megahnya dengan DBS, membuat perasaanku terkagum-kagum. Aku pun masuk melintasi ubin cantik berwarna coklat keemasan. Dinding klasik bernuansa eropa membuat suasana menjadi megah. Harumnya bau barang elektronik membuat kaki ingin menghampirinya.  Pandanganku hanya tertuju pada alat elektronik, tanpa memperhatikan orang sekitar. Akibat kelalaianku, terjadilah insiden kecil yang tak kuduga-duga sebelumnya.

"Bruakkkkkkkkkkkkk...........!"

Tubuhku terjatuh saat membalikkan badanku menuju tempat yang kutuju. Celakanya lagi, aku telah menabrak seseorang dengan tubuh dipenuhi buku. Wajahnya pun tak dapat kulihat, karena terhalangi buku.

"Maaf.......maaf....aku tak sengaja!" Aku berusaha merapikan bukunya.

"Ah..tak apa! Eh kamu kan..........!" Wajahnya menatapku dengan aneh.

"Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihatmu tapi dimana ya? Tanya wanita itu

"Aku juga merasa begitu! Kataku.

"Oh iya, kamu...............Oming kan? Tanya wanita itu.

"Iya........! kenapa kamu  bisa tau namaku? kamu siapa ya? Aku balik bertanya.

"Aku Diah Permatasari, temen SMP mu dulu!" Jawabnya.

"A.....a iya aku ingat sekarang! lama tak jumpa ya! Kamu sedang apa disini yah?” Sepintas, aku tampak kaget mendengar nama itu. Tak kuduga-duga, aku akan bertemu kembali dengannya.

"Aku bekerja disini! Jawabnya.

"Wow.......jabatanmu sepertinya tinggi, kulihat pakaianmu sangat rapi! Kataku.

"Hahaha, enggak juga...aku hanya seorang manager exekutif pemasaran produk!" jawabnya

"Wah.... keren-keren……….!” Aku tersenyum kepadanya.

"Gak keren-keren amat kok,…..Hmm, ada apa kesini ya?" Tanya Diah.

"Aku hanya ingin melihat produk terbaru! Kataku.

"Kalau begitu kau ikut aku saja…….mumpung lagi santai! Kata Diah.

"Baik....! Jawabku.

Aku pun diantar oleh Diah, menuju ruang pribadinya.

"Silahkan duduk!" Diah menyapaku dengan ramah.

"Terima kasih!" kataku.

"Silahkan, kamu bisa lihat semua produk baru di buku ini yang sudah terjun di pasaran!"  Diah menyuguhkanku buku besar bersampul tebal.

"Sepertinya merek asing masih dominan ya!" Aku mencoba berargumen setelah melihat buku tebal berisi jutaaan produk.

"Begitulah, produk Indonesia masih kalah dari Jepang! Jawab Diah.

"Ming, kamu tak apakan ditinggal sendirian? Aku mau ke ruang sebelah sebentar saja!" Kalimat ini diucapkannya setelah Diah menerima telpon.

"ah iya.......!" Jawabku.

Mataku mulai lelah melihat jutaan produk electronic. Aku pun berpikir untuk melihat buku-buku lain yang berada dihadapanku. Terlintas dalam pikiranku, sebuah buku yang begitu menarik untuk kulihat.

*Buku penyitaan aset*

Halaman demi halaman aku buka, yang aku lihat hanya ratusan penyitaan harta benda dan aset-aset penting lainnya. Tiba-tiba, mataku terhenti saat membaca kalimat yang tak asing lagi bagiku pada halaman terakhir.

"Penyitaan Butik Y.Tari"

" Penyitaan Butik Y.Tari maksudnya apa ya?” bisikku dalam hati.

Aku mencoba membaca kembali pada halaman itu, namun aku tak dapat menemukan informasi yang jelas karena buku itu hanya memuat penyitaan saja, tanpa penjelsan yang lengkap.


Tiba-tiba terdengar suara Handphoneku.

"Kring,,,,,,,,,,,,,,!" Aku pun sesegera mungkin mengangkatnya.

"Halo.........ini siapa ya?" tanyaku.

"Ini aku Gus De, Ming!" jawabnya.

"Ada apa menelpon malam-malam begini Gus?" aku kembali bertanya.

"Gawat Ming!" teriak Gus De.

"Gawat apanya,........katakan dengan jelas.....!" kataku.

"Dian........Menghilang!" teriak Gus De.

"Apa katamu? Dian Menghilang?!" Tak dapat kupungkiri, aku mendengar kabar buruk itu.

BERSAMBUNG
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~***~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apa sebenarnya yang terjadi pada Yuni?
Lalu bagaimana dengan Dian? mengapa dia menghilang begitu saja?
tunggu aja deh kelanjutannya!!!
Blog, Updated at: 9:47 AM

3 komentar:

Post a Comment

1 Komentar anda sangat berarti bagi kami. Karena komentar andalah yang menjadi semangat bagi kami.

Anda bebas berkomentar, asal jangan mencantumkan link hidup pada komentar. Bagi yang mencantumkan link hidup pada komentar, dengan berat hati komentar anda akan segera kami hapus.