Valentineku di Pedalaman Papua

Posted By Dewa Wijaya on Thursday, February 14, 2013 | 8:53 PM


Bagi yg baca, maklum ini tulisan ketika aku mencoba mencoret-coret pena mencoba membuat sebuah cerita dalam mengisi kekosongan hatiku buiiiks

Seperti biasa, aku berjalan tiap pagi menampaki jalanan pedesaan. Pagi cerah, tak ada satupun awan yang menghiasi langit ini. Burung-burung nan eloknya bernyanyi riang. Ayah menghampiriku kejalanan. Dia memintaku kembali kerumah. Pikirku tak biasanya Ayah menghampiriku seperti ini. Saat aku tiba dirumah, Ayah memintaku untuk tak sekolah hari ini. Tumben-tumbennya dia memintaku hal yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Ibu yang sedang memasak menghampiriku dan memberiku pakaian adat.

“Waw, ada apa ni?” bukankah tidak ada hari raya hari ini, begitulah pemikiranku terhadap sikap aneh orang tuaku hari ini.



Aku hendak ingin menanyakannya. Tapi, Ibu sudah mengatakannya duluan. Katanya, hari ini dia akan mengajakku tirta yatra ke pura Gunung Salak di Jakarta. Mendengar kabar itu, aku jingkrak-jingkrak seperti biasanya jika aku senang. Pertama kalinya iya mengajakku ke luar kota. Ayah dan Ibu buru-buru mengajakku ke bandara. Setibanya disana, tiba-tiba aku ingin pipis. Ibu menyuruhku untuk menemuinya di kedai minuman. Saat ku menghampirinya ke kedai minuman, Ibu tak ada disana. Seingatku Ibu memakai kebaya biru dan kamben batik. Aku melihatnya dari belakang namun wajahnya tak dapat terlihat. Begitu ramainya bandara internasional ini. Aku tak peduli, aku ikuti saja orang itu dari belakang.

Petugas disana meminta karcisku. Aku pun masuk pesawat. Ketika didalam pesawat, aku tak dapat menemukan Ibuku. “Ah, nanti aja keliatan!” pikirku dalam hati. Pil obat muntah aku minum, untuk mencegah ayam dan nasi goreng yang aku makan tadi pagi keluar dari perutku . Aku yang tak dapat menahan kantuk, aku pun tertidur pulas dalam perjalanan itu. Suara pramugari terdengar dalam mimpiku, sepertinya pesawat akan mendarat. Aku pun terbangun dari dunia mimpi.

Aku bergegas keluar menemui Ibu dan Ayah. Namun, tak ada dimanapun. Aku begitu khawatir. Jangan-jangan, aku salah masuk pesawat. Ternyata benar dugaanku. Saat aku melihat keadaan sekitar, terlihat baliho yang bertuliskan “ANDA BERADA DI KAWASAN MALUKU”. “Waw, mimpi apa aku semalam. Aku begitu panik. Ongkos balik ke Bali tak ada. Saat aku hendak menelpon orang tuaku, tidak dijawab. Dalam benakku, pertama kalinya aku tersesat seperti ini. Biasanya sih, aku sering tersesat setiap pergi ke rumah temanku di BTN Cemara giri. Sungguh malang nasibku saat ini.

Beruntung, keberadaanku tak begitu jauh dengan laut. Mungkin aku bisa naik kapal secara diam-diam. Saat aku tiba di dermaga, aku melihat kapal kargo yang hendak berlayar. Tanpa pikir panjang, aku menaiki kapal itu secara diam-diam. Berjam-jam aku menunggu. Aku berdoa dan memohon pada Tuhan, semoga kapal ini membawaku tak jauh dari Bali. Aku jadi ingat, kalau aku membawa kompas. Aku keluarkan kompas dari tasku yang penuh berisi tumpukan buku.

Nasibku kurang beruntung. Kapal kargo ini ternyata berlayar kearah timur. Aku yang panik, berharap tak ingin pergi jauh keluar Indonesia. Agar aku tak lebih jauh ke timur, aku memutuskan nekat meloncat dari kapal mumpung disebelahku ada pulau. “Byuur” lompatanku tak begitu jauh. Aku terjun ke air yang dangkal. Syukur, Tuhan menyelamatKan aku.

Tubuhku terdiam di pulau itu. Melihat seekor babi hutan yang hendak mengejarku. Aku tak dapat berlari karena terlalu takut. Lari pun tak mungkin dapat menyelamatkanku, mengingat aku begitu lemah. Aku hanya berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Ketika babi itu ingin menyerudukku. Tiba-tiba datang seseorang yang aneh muncul di hadapanku dan menghalangi babi itu.

Aku sangat berterima kasih kepadanya. Tapi anehnya lagi dia tidak mengerti ucapanku. Mungkin ini masyarakat primitive Papua. Diliat dari cara mereka berpakaian dan membawa pisau belati di tangannya. Dia pun mengajakku ke pedesaan suku itu. Aku menduga, peradaban di desa ini adalah suku Dani. Sepertinya mereka kaget melihat penampilanku. Itu dapat aku liat, dari cara mereka yang menatap aku seperti melihat Alien jatuh dari luar angkasa.

“Hei kau dari mana?,” terdengar suara dari balik pondok jerami. “Hua,” aku kaget melihat seseorang yang berbicara denganku dibalik tumpukan jerami. Aku mulai berpikir apakah ini benar suku pedalaman atau tidak. Aku pun meladeni orang itu bicara.

“Tunjukanlah dirimu sekarang!,” begitulah perkataanku dengan menahan rasa takut.

Orang itu pun menunjukan dirinya. Aku benar-benar tak percaya, orang itu ternyata kelompok suku mereka. Tapi, wajahnya tak seperti orang Papua. Kupikir orang itu berasal dari perkotaan yang tersesat disini seperti yang aku alami saat ini. Aku mencoba bertanya tempat asalnya, dan dugaanku lagi-lagi benar.

“Haha, tumben aku seperti peramal!,” pikirku dalam hati.

“Hei, sudah malam, sebaiknya kamu istirahat!, sini aku antarkan ke pondokmu,!” begitulah perkataan orang itu kepadaku. Di pondok aku beristirahat. Aku tak habis pikir menjalani hari ini penuh akan petualangan.

Esok hari telah tiba. Sang surya tampak dekat dari pengliatan. Begitu indah pulau ini, dapat melihat bebas ke angkasa. Tidak seperti desa atau kota biasanya, di pulau suku pedalaman ini, aku begitu bebas menghirup udara yang bebas polusi.

“Hei, bangun!,” sudah pagi saatnya makan! Terdengar suara di bawah pondokku.“Iya, aku segera datang,!” sambil bersiap-siap tanpa mengganti baju seharian.“Oh ya, aku belum tau namamu,!” namamu siapa? Tanyaku sambil menengok keluar.“Namaku Sisilia, panggil aja aku Sisil!, tapi itu satu tahun yang lalu!,” sahut Sisil.“Kenalkan namaku Oming!,” kenapa satu tahun yang lalu? Tanyaku dengan penasaran.“Hmm ceritanya panjang, cepat kamu keluar! Kita akan segera berangkat ke pantai!” sahut Sisil.Aku bergegas menuruni pondok. Mengikuti Sisil dan anggota suku yang lain menuju pantai untuk mencari ikan. Setibanya di pantai, aku jadi ingat kalau tasku tertinggal saat hendak diseruduk babi hutan. Beruntung, salah seorang anggota suku menemukan tasku. Aku hendak ingin menelpon Ayah dan Ibu, namun di pulau ini tak ada signal sedikitpun. Aku jadi ingat kalau, esok adalah hari valentine, mengingat aku membawa coklat yang hendak aku berikan kepada temanku disekolah. Sisil menghampiriku dan memberiku ikan.

“Nih, ikan untukmu,! Makanlah nanti kamu sakit!,” kata Sisil dengan perhatiaannya.“Terima kasih! Oh ya, setelah makan bisa kau tunjukan tempat terindah di pulau ini?” begitulah pertanyaanku terhadap Sisil.“Tentu!,” jawab Sisil dengan senyuman.

Aku sempat berpikir, apakah aku akan selamanya disini seperti keadaan Sisil yang sekarang. Perasaanku tak dapat ditahan lagi. Seperti biasa, aku mengeluarkan air mata. Biasanya, saat aku menangis temanku di sekolah pasti menghiburku dan menyemangatiku. Aku menatap coklat yang aku bawa dari rumah. Terpikir ide untuk memberikan semua coklat ini kepada seluruh masyarakat suku pedalaman ini. Mengingat, valentine tidak hanya sebagai hari kasih sayang, tetapi valentine juga merupakan hari untuk berbagi terhadap sesama. Masyarakat suku begitu bahagia saat aku memberikan coklat itu.. Aku bahagia melihat suasana sarapan pagi yang berbeda dari sebelumnya.Senyuman terpancar dari wajah mereka. Seakan tumbuh rasa kasih sayangku terhadap masyarakat pedalaman ini.

Siang hari, suasana tetap sejuk dan damai, Sisil menepati janjiku untuk menunjukan tempat yang indah di pulau ini. Perasaanku seperti berada di surga, saat melihat tempat yang ditunjukan Sisil. Aku pun memberikan Sisil bunga yang hendak aku berikan kepada orang tuaku sebagai hadiah valentine. Sisil begitu menyukai hadiah yang aku berikan padanya. Dan saat itu pula, dia menceritakan mengapa iya bisa berada di peradaban primitive ini.

Saat ini aku memang belum mempunyai pacar. Pikirku belum saatnya aku pacaran. Sisil pun berpikiran yang sama denganku, saat aku menanyakan soal pacar kepadanya. Menurutnya, rasa kasih sayang itu adalah berbagi. Bukan hanya materi yang dapat dibagi. Tapi, kebahagian adalah hal utama yang patut kita bagi bersama. Mendengar perkataan Sisil, aku jadi sadar bahwa tak harus punya uang banyak untuk memberikan hadiah yang bagus bagi orang yang kita sayangi baik itu sebagai teman, pacar, maupun keluarga.

Puas akan keindahan pulau, sore hari aku mengajak Sisil kembali ke pantai. Tiba-tiba, helicopter terbang di atas perairan laut yang dangkal. Aku berteriak memanggil orang yang berada di helicopter itu. Tentunya hal itu takkan berhasil. Aku bergegas mengambil mercon yang ada di tasku. Mercon ini harusnya aku gunakan untuk perayaan valentine dengan temanku. Saat mercon ku luncurkan, aku melambaikan tangan bersama Sisil. Helikopter itu pun mendarat di pantai. Aku meminta bantuan kepada mereka untuk mengantarkan aku ke Bali. Beruntung helicopter itu memang hendak menuju ke Bali. Aku mengajak Sisil untuk meninggalkan pulau ini. Namun dia tidak mau, padahal jika sudah di Bali mungkin Ayahku bisa membantunya untuk pergi ke daerah asalnya. Sisil mengatakan alasan yang lain. Dia lebih nyaman berada di pulau ini. Sisil suka pulau ini karena dia punya teman banyak bersama masyarakat suku pedalaman. Aku tak dapat mengelak. Sebelum aku berangkat ke Bali, aku mengucapkan salam terakhirku kepada seluruh masyarakat suku pedalaman terutama pada Sisil. Aku telah belajar banyak dalam perjalanku selama 3 hari terakhir. Aku pasti akan mengunjungi kalian semua suatu hari nanti. Perpisahan itu begitu mengharukan. Bahkan, aku diberikan sisa ikan yang mereka punya. Aku begitu berterima kasih kepada mereka. Ini adalah hari valentine yang begitu indah. Kasih sayang mereka kepadaku takkan pernah kulupakan.

1 Hari perjalanan, akhirnya aku sampai di pulau tercintaku. Saat tiba dirumah aku langsung memeluk Ibu dan Ayah yang sudah menungguku di depan rumah. Sebelumnya aku sudah menelpon orang tuaku untuk tidak cemas. Ketika makan malam, aku memberikan orang tuaku ikan. Sambil makan, aku menceritakan pengalaman yang aku dapatkan selama ini. Mereka begitu terharu mendengarnya.

Keesokan harinya, aku pergi kesekolah. Aku sudah berjanji untuk memberikan hadiah kepada temanku.

“Gawat!, Coklatnya habis” pikirku dalam hati. Untung teman-temanku tidak marah setelah aku menceritakan semua pengalaman yang aku alami. Hebatnya lagi, tumben mereka percaya pada omonganku. Terimakasih teman, kau adalah teman terbaikku. SELAMAT HARI VALENTINE semua. Walau tak ada hadiah, namun kasih sayangku takkan lepas kupancarkan untuk kalian semua.
Blog, Updated at: 8:53 PM

5 komentar:

Post a Comment

1 Komentar anda sangat berarti bagi kami. Karena komentar andalah yang menjadi semangat bagi kami.

Anda bebas berkomentar, asal jangan mencantumkan link hidup pada komentar. Bagi yang mencantumkan link hidup pada komentar, dengan berat hati komentar anda akan segera kami hapus.